Dr. Diana Chan – Dokter Spesialis Nyeri di Singapura
Dr-Diana-Chan-450x595-1

Dr. Diana Chan

Spesialisasi: Manajemen Nyeri & Anestesiologi
Bahasa: Bahasa, Cantonese, English, Hokkien, Mandarin, Teochew
Klinik: Advanced Pain Specialists


Baca profilnya dalam Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, dan Bahasa Vietnam.

Siapa Dr. Diana Chan?

Dr. Diana Chan adalah seorang dokter spesialis di bidang manajemen nyeri dan anestesiologi. Perjalanannya menekuni subspesialisasi ini berawal dari pengalaman pribadi, yaitu cedera bahu kronis yang dialaminya saat masa kuliah.

Pengalaman tersebut membuatnya mampu memahami dan berempati secara mendalam terhadap pasien yang mengalami nyeri. Ia dikenal luas karena kemampuan klinis dan keterampilan intervensinya yang kuat, serta kontribusinya dalam penelitian dan edukasi di bidang manajemen nyeri.

Apa Prinsip Dr. Diana Chan dalam Praktik Kedokteran?

Prinsip saya didasari oleh keyakinan bahwa tidak ada seorang pun yang seharusnya harus menanggung nyeri kronis dalam diam. 

Saya berupaya memberikan perawatan yang bersifat personal dan multidisipliner, tidak hanya berfokus pada meredakan gejala, tetapi juga memulihkan kualitas hidup serta kemandirian fungsional pasien agar mereka dapat kembali menjalani aktivitas yang mereka cintai.

Tanya Jawab dengan Dr. Diana Chan

Seorang spesialis manajemen nyeri menangani serta mengoordinasikan pengobatan berbagai kondisi nyeri. Nyeri merupakan gejala yang sangat umum dan sering kali melibatkan berbagai bidang spesialisasi medis.

Hal yang membedakan spesialis nyeri adalah kami menangani berbagai jenis nyeri, baik akut maupun kronis, menyediakan pilihan terapi mulai dari pendekatan konservatif hingga tindakan intervensi minimal invasif, serta yang paling penting, mengoordinasikan perawatan pasien secara biopsikososial dan holistik.

Pasien dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan spesialis manajemen nyeri ketika tingkat nyeri sudah tidak lagi dapat ditangani dengan analgesik sederhana, ketika nyeri berlangsung lebih dari 3 bulan setelah proses penyembuhan jaringan seharusnya terjadi, atau ketika nyeri mulai mengganggu aktivitas sehari-hari serta kualitas hidup.

Senior-senior saya yang bekerja di bidang manajemen nyeri menjadi salah satu inspirasi saya. Saya melihat bagaimana mereka mampu membawa perubahan besar bagi pasien yang telah lama menderita nyeri.

Selain itu, saya juga memiliki masalah nyeri sendiri, seperti nyeri bahu dan migrain, sehingga saya dapat lebih berempati terhadap pasien yang mengalami penderitaan akibat nyeri.

Saya terus memperbarui pengetahuan dengan mempelajari teknik intervensi terbaru, sekaligus mencari celah atau area yang masih perlu diteliti dalam bidang manajemen nyeri.

Saya membaca artikel jurnal ilmiah serta berdiskusi dengan berbagai spesialis lain yang berkaitan dengan bidang manajemen nyeri.

Dedikasi kepada pasien – 150%.

Menyembuhkan jika memungkinkan, namun selalu memberikan kenyamanan.

Selalu mendengarkan harapan dan ekspektasi pasien.

Terapi nyeri selalu berfokus pada pendekatan yang berpusat pada pasien.

Nyeri akibat kanker

  • Saya pernah menangani pasien berusia 30 tahun dengan kanker ginjal stadium akhir. Ia sangat mengantuk karena harus mengonsumsi dosis tinggi opioid dan ketamin akibat nyeri yang luar biasa, sehingga tidak dapat berkomunikasi dengan keluarganya. Kami memasang pompa intratekal, dan dalam semalam dosis opioidnya dapat dikurangi secara signifikan. Ia pun dapat menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah dalam keadaan sadar, nyaman, dan tanpa nyeri.
  • Saya juga pernah dipanggil untuk menangani pasien berusia 21 tahun dengan sarkoma Ewing metastatik, dengan tumor agresif yang telah menyebar luas. Ia mengalami nyeri hebat hingga tidak dapat bergerak. Kami memasang pompa intratekal, dan keesokan harinya ia sudah bisa bermain game di komputernya. Pompa tersebut membantu mengendalikan nyerinya selama tiga bulan terakhir kehidupannya, dan saya menyaksikan sendiri keberanian serta ketangguhannya dalam menghadapi perjalanan penyakit kanker tersebut.

Pasien neuralgia trigeminal

  • Seorang pasien wanita berusia 93 tahun dengan neuralgia trigeminal yang sangat sulit ditangani. Ia mengonsumsi Lyrica dan carbamazepine, namun mengeluhkan efek samping berupa brain fog. Karena ia merupakan kepala keluarga yang mengelola keuangan keluarga, ia ingin tetap memiliki kondisi mental yang jernih.
  • Kami menawarkan prosedur radiofrequency ablation pada ganglion gasserian, dan nyerinya langsung hilang setelah prosedur tersebut. Sebelumnya ia bahkan tidak dapat makan karena nyeri. Prosedur ini bersifat minimal invasif dan sangat sesuai untuk masyarakat dengan populasi lanjut usia yang semakin besar.

Mitos: Manajemen nyeri hanya bersifat sementara dan nyeri pasti akan kembali.
Fakta: Dalam beberapa kasus, terapi nyeri dapat bersifat terapeutik bahkan kuratif.

Mitos: Nyeri adalah bagian dari proses penuaan dan harus diterima begitu saja.
Fakta: Tidak. Nyeri bukan bagian alami dari penuaan. Seseorang dapat menua dengan sehat tanpa harus hidup dengan nyeri.

Mitos: Jika mengalami nyeri punggung, saya harus selalu menemui dokter bedah tulang belakang.
Fakta: Tidak selalu. Banyak kasus dapat ditangani dengan injeksi atau terapi konservatif.

Mitos: Manajemen nyeri hanya berarti mengonsumsi obat pereda nyeri.
Fakta: Ada banyak pendekatan dan metode dalam penanganan nyeri.

Mitos: Injeksi steroid berbahaya.
Fakta: Jika dilakukan oleh spesialis yang tepat, terapi ini sering kali lebih aman dibandingkan penggunaan steroid jangka panjang atau obat nyeri neuropatik jangka panjang.

Saya meluangkan waktu untuk menjelaskan kepada pasien, sering kali dengan menggambar diagram agar lebih mudah dipahami.

Saya juga menggunakan brosur serta contoh kasus nyata. Selain itu, saya selalu menjelaskan berbagai pilihan terapi yang tersedia, termasuk efektivitas, risiko, dan kekurangannya.

Saya melakukan perjalanan, menjalani perawatan wajah, pergi pijat, berlari, dan berolahraga di gym. Saya juga menulis jurnal.

Beberapa perkembangan yang menarik dalam manajemen nyeri antara lain teknologi disc ablation, pemanfaatan AI, terapi energi non-invasif, serta pengembangan obat baru non-opioid.

Latar Belakang Profesional Dr. Diana Chan

Dr. Diana Chan adalah seorang Spesialis Manajemen Nyeri dan Anestesiologi yang sangat berpengalaman. Ia sebelumnya menjabat sebagai Kepala Departemen Pain Medicine di Singapore General Hospital dari tahun 2020 hingga 2024.

Sebagai pendiri sekaligus mantan Kepala SingHealth Duke-NUS Pain Centre, ia memiliki peran penting dalam membentuk sistem perawatan nyeri multidisipliner di Singapura.

Kepemimpinannya juga terlihat dari perannya sebagai Honorary Secretary untuk Chapter of Pain Medicine Physicians di Academy of Medicine, Singapore, serta sebagai mantan anggota Council dari College of Anaesthesiologists.

Dikenal atas komitmennya terhadap pelayanan yang berfokus pada pasien, ia pernah menerima penghargaan SingHealth Service with a Heart Award dan terus mendorong perkembangan bidang kedokteran nyeri melalui penelitian yang luas, termasuk lebih dari 30 publikasi ilmiah peer-reviewed, serta berbagai penampilan di media seperti Channel 8 dan The Straits Times.

Kualifikasi Akademik

MBBS (Singapore), MMed (Anaes), FAMS (Anaes), MCI

Dr. Diana Chan meraih gelar Bachelor of Medicine and Bachelor of Surgery (MBBS) serta Master of Medicine di bidang Anestesiologi dari National University of Singapore.

Untuk memperdalam keahliannya dalam penelitian medis dan praktik klinis lanjutan, ia juga memperoleh gelar Masters of Clinical Investigation (MCI) dari Yong Loo Lin School of Medicine.

Ia merupakan Fellow dari Academy of Medicine, Singapore (FAMS) serta Fellow in Interventional Pain Practice (FIPP) melalui World Institute of Pain.

Selain itu, ia juga memiliki Graduate Diploma of Acupuncture (GDA) dan European Diploma of Regional Anaesthesia (EDRA), yang mencerminkan pendekatannya yang komprehensif dalam penanganan nyeri.

Keahlian Klinis

Dr. Diana Chan memiliki spesialisasi dalam manajemen nyeri intervensi minimal invasif dan telah memiliki pengalaman lebih dari satu dekade di bidang ini.

Ia telah melakukan lebih dari 500 prosedur dasar maupun lanjutan, termasuk injeksi steroid epidural untuk nyeri punggung dan sciatica, radiofrequency ablation pada sendi dan tulang belakang, serta prosedur disc ablation.

Keahliannya juga mencakup bidang kedokteran regeneratif seperti injeksi platelet-rich plasma (PRP) dan prolotherapy, serta terapi khusus untuk kondisi nyeri neuropatik kompleks seperti trigeminal neuralgia dan postherpetic neuralgia.

Selain itu, ia juga menangani intervensi nyeri kanker tingkat lanjut, termasuk penggunaan kateter intratekal dan sympathetic block, serta memanfaatkan injeksi Botox untuk penanganan migrain dan nyeri panggul kronis.

Visi

Memulihkan Kualitas Hidup Melalui Perawatan Nyeri yang Tepat untuk Anda

“Kepuasan terbesar adalah ketika seorang pasien yang sebelumnya datang dengan rasa sakit, kembali ke ruang konsultasi Anda dengan senyuman dan mengatakan bahwa mereka merasa jauh lebih baik.”

Dr. Diana Chan

Layanan Medis

Layanan medis yang ditawarkan Dr. Kevin Koo meliputi:

Media Sosial

Konten Media Sosial

Reviewed Articles

Artikel yang Ditinjau oleh Ahlinya

Semua konten di situs ini hanya bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional, dan tidak boleh dijadikan patokan untuk saran medis spesifik. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi 119 atau kunjungi Unit Gawat Darurat (UGD) terdekat.

365Sehat adalah anggota dari Group 365Asia.