Vaksin Cacar Api

Vaksin Cacar Api

Cacar api atau herpes zoster adalah ruam menyakitkan yang muncul di satu sisi tubuh. Infeksi virus ini disebabkan oleh aktifnya kembali virus cacar air (varicella-zoster). Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tetap ada di sistem saraf dalam keadaan tidak aktif. Virus ini bisa aktif kembali sebagai shingles atau cacar api bahkan puluhan tahun kemudian. Vaksin cacar api dapat melindungi Anda dari kondisi yang menyiksa ini.

Apa yang Terjadi Saat Cacar Api Menyerang?

  • Cacar api dimulai dengan rasa nyeri, panas terbakar, atau kesemutan di area tertentu pada satu sisi tubuh.
  • Ruam merah dengan lepuhan berisi cairan kemudian muncul di area tersebut. Ini bisa memakan waktu hingga 4 minggu untuk sembuh.
  • Rasa sakit yang terkait dengan cacar api bisa sangat parah dan melemahkan.
  • Cacar api dapat menyebabkan nyeri saraf persisten yang berlanjut selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
  • Lansia dan mereka dengan sistem imun lemah berisiko lebih tinggi terkena komplikasi termasuk kehilangan penglihatan, masalah pendengaran, pneumonia, dan radang otak.

Siapa yang Berisiko Terkena Cacar Api?

Sekitar 1 dari 3 orang akan terkena cacar api. Jika Anda pernah menderita cacar air sebelumnya, Anda berisiko. Faktor risiko umum lainnya meliputi:

  • Usia: Terutama jika Anda berusia di atas 50 tahun.
  • Stres: Dapat memicu munculnya cacar api.
  • Sistem imun yang lemah.

Ingin Lakukan Vaksinasi Cacar Api di Luar Indonesia? 365Sehat Bisa Bantu Anda!

AsiaMedic, penyedia layanan kesehatan terkemuka di Singapura dan mitra pilihan kami, menawarkan paket vaksinasi herpes zoster seharga S$688 (sekitar Rp 9.118.270).

Untuk dibantu dijadwalkan vaksinasinya, bisa langsung hubungi kami dengan klik tombol di bawah ini!

Shingles atau cacar api dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan nyeri jangka panjang, dan siapa pun dengan riwayat cacar air berisiko. Namun risiko ini dapat dikurangi melalui vaksinasi. Kami mengundang pelanggan untuk mendapatkan vaksin sekaligus melakukan pemeriksaan kesehatan tahunan di AsiaMedic.

Vaksin Cacar Api AsiaMedic

FAQ

Vaksin cacar api penting karena dapat secara signifikan menurunkan risiko terkena herpes zoster atau shingles beserta komplikasinya, seperti nyeri saraf jangka panjang yang dikenal sebagai postherpetic neuralgia (PHN).

Orang dewasa berusia 50 tahun ke atas dianjurkan mempertimbangkan vaksin ini, bahkan jika sebelumnya pernah mengalami shingles atau tidak yakin pernah terkena cacar air.

Seiring bertambahnya usia, sistem imun kita akan melemah sehingga vaksinasi menjadi langkah penting untuk melindungi kesehatan.

Terdapat dua jenis vaksin:

  • Shingrix: Vaksin generasi baru yang bukan vaksin hidup dan memiliki efektivitas lebih dari 90% dalam mencegah shingles serta PHN. Diberikan dalam dua dosis dengan jarak 2 hingga 6 bulan.
  • Zostavax: Vaksin yang lebih lama dan merupakan vaksin hidup yang diberikan dalam satu dosis. Efektivitasnya lebih rendah dibandingkan Shingrix dan kini lebih jarang digunakan.

Shingrix menjadi pilihan utama karena efektivitasnya lebih tinggi dan perlindungannya bertahan lebih lama.

Sebagian besar orang mengalami efek samping ringan hingga sedang yang berlangsung selama beberapa hari, seperti:

  • Kemerahan, pembengkakan, atau nyeri di area suntikan
  • Nyeri otot dan kelelahan
  • Sakit kepala
  • Demam dan menggigil
  • Gangguan lambung seperti mual

Efek samping ini merupakan tanda normal bahwa tubuh Anda sedang membangun perlindungan. Obat pereda nyeri yang dijual bebas dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan jika diperlukan.

Ya, Anda tetap harus divaksinasi:

  • Jika pernah terkena cacar api: Vaksin dapat membantu mencegah episode di masa depan. Cacar api bisa kambuh, dan vaksinasi memperkuat pertahanan imun Anda.
  • Jika pernah vaksin cacar air: Virus tetap bisa bersembunyi di tubuh Anda. Vaksin cacar api memberikan perlindungan tambahan terhadap reaktivasi virus tersebut.

Shingrix memberikan perlindungan kuat setidaknya selama tujuh tahun, bahkan mungkin lebih lama. Penelitian saat ini menunjukkan bahwa efektivitas vaksin tetap tinggi seiring waktu.

Hingga saat ini, belum ada rekomendasi untuk dosis booster setelah dua dosis awal, namun studi berkelanjutan terus memantau durasi imunitasnya.