
Dr. Lee Lip Seng
Spesialisasi: Bedah Hepatobilier & Pankreas, Bedah Umum
Klinik: LS Lee Surgery
Baca profilnya dalam Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, dan Bahasa Vietnam.
Siapa Dr. Lee Lip Seng?
Dr. Lee Lip Seng adalah seorang Konsultan Senior Bedah Hepatopancreatobiliary (HPB) di Singapura. Beliau dikenal luas atas keahliannya dalam Bedah Invasif Minimal (Bedah Laparoskopi dan Robotik) untuk menangani kanker hati, kanker pankreas, batu empedu, serta polip empedu.
Dengan pengalaman bedah selama lebih dari 20 tahun, Dr. Lee memiliki akreditasi penuh untuk melakukan tindakan medis di sebagian besar rumah sakit swasta terkemuka di Singapura, seperti Mount Alvernia Hospital, Mount Elizabeth Novena Hospital, Mount Elizabeth Orchard Hospital, Gleneagles Hospital, Parkway East Hospital, Farrer Park Hospital.
Selain itu, beliau juga menjabat sebagai Konsultan Tamu di Changi General Hospital.
Apa Prinsip Medis Dr. Lee Lip Seng?
Dr. Lee sangat percaya bahwa pembelajaran berkelanjutan dan inovasi adalah kunci utama dalam memberikan perawatan terbaik bagi pasien. Beliau memiliki dedikasi tinggi untuk selalu mengikuti perkembangan bedah terkini serta menerapkan teknologi dan teknik terbaru dalam praktik medisnya.
Tanya Jawab dengan Dr. Lee Lip Seng
Saya membantu pasien dengan kondisi HPB untuk mengambil keputusan perawatan yang terinformasi dan personal. Penyakit di bidang ini sering kali kompleks—bukan hanya karena bedah HPB adalah salah satu area bedah perut yang paling menuntut secara teknis, tetapi juga karena adanya variasi anatomi yang signifikan pada tiap pasien yang memengaruhi perencanaan operasi dan hasilnya.
Melihat pasien saya pulih dengan baik, terutama mereka yang mendapatkan manfaat dari bedah invasif minimal (laparoskopi/robotik), menjadi motivasi kuat bagi saya untuk terus memberikan perawatan yang aman dan berbasis bukti ilmiah (evidence-based).
- Ketika ditemukan lesi atau tumor hati baru pada hasil pemindaian (seperti saat medical check-up rutin).
- Ketika ditemukan tumor atau kista pada pankreas melalui hasil scan.
- Ketika kanker usus besar (kolorektal) telah menyebar ke hati dan berpotensi untuk disembuhkan melalui pengangkatan bedah.
- Ketika penanda kanker CA19-9 meningkat, terutama jika disertai gejala atau temuan scan yang tidak normal.
- Ketika batu empedu menyebabkan masalah, seperti:
- Nyeri perut (kolik bilier).
- Peradangan kantong empedu (kolesistitis).
- Sakit kuning (kulit/mata menguning).
- Pankreatitis (peradangan pankreas).
Saya menghadiri dan berpartisipasi aktif dalam konferensi HPB tingkat internasional maupun lokal, serta menjalani Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (CME) secara rutin untuk memastikan pengetahuan klinis saya tetap mutakhir.
Filosofi saya adalah memberikan perawatan bedah yang tulus dan berpusat pada pasien (patient-focused), serta memastikan kesinambungan perawatan mulai dari tahap pra-operasi hingga manajemen pasca-operasi.
Saya memiliki banyak pasien dengan skenario serupa, di mana keberhasilan kesembuhan mereka mendorong saya untuk terus memberikan yang terbaik bagi pasien-pasien lainnya.
Kisah Pasien 1: Seorang pria paruh baya datang dengan hasil CA19-9 yang tinggi. Tes lanjutan mengonfirmasi kanker pankreas yang telah menyebar ke hati. Meski operasi bukan pilihan utama saat itu, ia segera mengambil keputusan untuk memulai pengobatan tanpa menunda. Berkat investigasi yang cepat dan koordinasi yang baik, terapi sistemik dimulai lebih awal, memberinya peluang respon terbaik.
Kisah Pasien 2: Seorang pasien didiagnosis dengan tumor pankreas yang besar namun masih terlokalisasi. Meski sempat cemas, ia tetap fokus pada pengobatan. Tumor berhasil diangkat melalui bedah invasif minimal. Pemulihannya berjalan mulus tanpa komplikasi luka, sehingga ia bisa memulai kemoterapi sesuai jadwal.
Kisah Pasien 3: Pasien ini menderita nyeri perut berulang yang tidak kunjung membaik meski sudah minum berbagai obat lambung. Ia gigih mencari penyebab nyerinya. Setelah batu empedu teridentifikasi sebagai penyebabnya, ia menjalani operasi pengangkatan kantong empedu secara laparoskopi dan pulih sepenuhnya; gejalanya pun hilang total.
Kisah Pasien 4: Seorang pria muda didiagnosis menderita kanker hati besar di sisi kanan (sekitar 15 cm). Mengangkat tumor tersebut akan menyisakan volume hati yang sangat mepet, sehingga butuh perencanaan yang sangat teliti. Dengan bantuan perencanaan 3D untuk memetakan anatomi hati dan uji fungsi hati (ICG test), operasi berhasil dilakukan. Ia pulih dengan baik, batas sayatan bedahnya bersih dari kanker, dan kini rutin menjalani kontrol.
Banyak pasien yang keliru menganggap kantong empedu sama dengan kandung kemih (saluran kencing). Kantong empedu adalah organ kecil di bawah hati yang menyimpan cairan empedu untuk membantu pencernaan, tidak ada hubungannya dengan urine. Karena fungsinya menyimpan cairan, batu bisa terbentuk di sana. Cairan empedu sendiri diproduksi oleh hati, jadi setelah operasi pengangkatan kantong empedu, saluran pencernaan tetap utuh dan kebanyakan orang bisa hidup normal tanpa hambatan.
Ada juga yang mengira batu empedu bisa “digelontor” keluar dengan banyak minum air seperti batu ginjal. Ini salah, karena kantong empedu adalah bagian dari sistem pencernaan, bukan sistem urinaria. Minum air tidak akan mengeluarkan batu empedu melalui urine. Sebaliknya, batu empedu kecil justru berisiko jatuh ke saluran empedu dan menyebabkan penyumbatan serius, infeksi, hingga sakit kuning.
Komunikasi yang jelas dan transparan adalah kuncinya.
Saya menjaganya melalui manajemen waktu yang baik dan menetapkan batasan yang jelas. Di luar pekerjaan, saya meluangkan waktu untuk keluarga, bermain bulu tangkis, mendengarkan musik di Spotify, serta berkumpul dengan teman dan kolega. Hal ini membantu saya tetap segar dan fokus sepenuhnya saat menangani pasien.
- Bedah Robotik: Teknik invasif minimal terus berkembang. Penggunaan platform robotik meningkatkan presisi dalam prosedur kompleks pada pankreas, hati, dan saluran empedu, sehingga pasien bisa pulih lebih cepat dengan sayatan yang lebih kecil.
- Pencitraan Fluoresensi ICG: Penggunaan zat warna khusus (ICG) membantu dokter melihat anatomi hati, saluran empedu, dan batas tumor dengan lebih jelas selama operasi. Ini membuat prosedur lebih aman dan mengurangi risiko pendarahan.
- Rekonstruksi Anatomis 3D: Memungkinkan dokter memvisualisasikan struktur hati pasien secara akurat sebelum operasi dimulai, sehingga rencana pembedahan jauh lebih matang dan aman.
Jangan abaikan gejala perut yang menetap. Jika rasa tidak nyaman, nyeri, kembung, atau gangguan pencernaan tidak kunjung membaik, segera cari bantuan medis.
Sayangnya, sebagian besar kanker HPB tidak bergejala pada stadium awal. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan (medical check-up) secara rutin dan jangan mengabaikan hasil tes darah yang menunjukkan penanda kanker yang tidak normal.
Profil Profesional Dr. Lee Lip Seng
Dr. Lee Lip Seng adalah pakar bedah yang telah membantu banyak pasien melalui teknik bedah invasif minimal, termasuk teknik robotik dan laparoskopi. Komitmennya terhadap keunggulan klinis dan pendekatan pengobatan yang inovatif telah terbukti meningkatkan tingkat kesembuhan serta kualitas hidup pasien secara signifikan.
Selain kemahiran teknisnya di ruang bedah, Dr. Lee juga dikenal karena empati dan kepeduliannya yang tinggi terhadap pasien. Hal ini membuatnya meraih berbagai penghargaan serta pengakuan dari rekan sejawat maupun pasien. Dedikasinya terpermin dari ketelitiannya dalam menegakkan diagnosis, menyusun rencana pengobatan, hingga manajemen pasca-operasi.
Kontribusi Dr. Lee Lip Seng dalam dunia bedah dan pendidikan medis telah memberikan dampak besar bagi komunitas kesehatan. Melalui terobosan inovatif dan perawatan yang humanis, beliau terus membawa perubahan positif bagi kehidupan para pasiennya.
Kualifikasi Akademik
Dr. Lee Lip Seng meraih gelar medisnya dari Royal College of Surgeons yang bergengsi di Irlandia. Beliau menyelesaikan pelatihan spesialis bedah di Changi General Hospital dan Singapore General Hospital, tempat beliau mempertajam kemampuannya dalam menangani berbagai prosedur bedah kompleks.
Berkat prestasinya, Dr. Lee dianugerahi beasiswa Health Manpower Development Plan (HMDP). Penghargaan ini memberinya kesempatan untuk menjalani pelatihan clinical fellowship selama satu tahun di bidang Bedah Invasif Minimal untuk Bedah Hepatopancreatobiliary di Yonsei Severance Hospital, Seoul, Korea (2015–2016).
Keahlian Klinis
Gelar: MB BCh BAO (Ireland), MRCS (Edinburgh), MMed (Surgery), FRCS (Edinburgh), FAMS (General Surgery)
Dr. Lee Lip Seng memiliki spesialisasi dalam berbagai teknik bedah tingkat lanjut, dengan fokus utama pada:
- Empedu: Batu empedu serta bedah kantong empedu dan saluran empedu.
- Hati (Liver): Kanker hati, tumor hati, dan kista hati.
- Pankreas: Kanker pankreas, tumor pankreas, dan kista pankreas.
- Hernia: Operasi perbaikan hernia.
- Bedah Umum & Prosedur Endoskopi: Usus buntu akut, gastritis & tukak lambung, drainase abses, benjolan pada kulit, kolonoskopi, dan gastroskopi.
- Bedah Invasif Minimal: Teknik Laparoskopi dan Robotik.
Visi
Layanan Bedah yang Tulus dan Berfokus pada Pasien
“Saya percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan perawatan yang tulus, penuh kasih sayang, dan berpusat pada kebutuhan individu mereka. Tujuan saya adalah menyediakan layanan bedah yang tidak hanya memberikan hasil terbaik, tetapi juga memprioritaskan kepercayaan dan komunikasi terbuka.”
— Dr. Lee Lip Seng
Layanan Medis Dr. Lee Lip Seng
Layanan medis yang ditawarkan Dr. Lee Lip Seng meliputi:
Konten Media Sosial
Artikel yang Ditinjau oleh Ahlinya
Dr. Lee Lip Seng menjelaskan soal manfaat dan risiko operasi batu empedu laparoskopi.
Semua konten di situs ini hanya bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional, dan tidak boleh dijadikan patokan untuk saran medis spesifik. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi 119 atau kunjungi Unit Gawat Darurat (UGD) terdekat.
365Sehat adalah anggota dari Group 365Asia.









