Panduan Lengkap Penyakit Jantung Koroner dan Biaya Pengobatan di Palembang | 2026

Panduan Lengkap Penyakit Jantung Koroner dan Biaya Pengobatan di Palembang | 2026

panduan-lengkap-penyakit-jantung-koroner-1024x536

Apa itu Penyakit Jantung Koroner?

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah kondisi ketika pembuluh darah utama yang menyuplai darah ke jantung (arteri koroner) mengalami penyempitan atau penyumbatan akibat penumpukan plak (kolesterol dan lemak). Hal ini membuat aliran darah ke jantung berkurang, yang dapat memicu nyeri dada (angina), serangan jantung, hingga komplikasi serius lainnya. PJK juga sering disebut sebagai penyakit jantung iskemik.

Kembali ke: Halaman Utama Penyakit Jantung Koroner

Seberapa Umum Kasus Ini?

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dimuat dalam artikel Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penyakit kardiovaskular merenggut lebih dari 17 juta nyawa setiap tahunnya di dunia, dengan angka kematian di Indonesia mencapai 651.481 jiwa per tahun—di mana Penyakit Jantung Koroner (PJK) menyumbang 245.343 kematian. Data Kemenkes melalui Riskesdas juga mencatat prevalensi PJK sebesar 0,5% (peringkat ketujuh Penyakit Tidak Menular), yang banyak menyerang kelompok usia 35-59 tahun maupun usia 60 tahun ke atas.

Khusus di Palembang dan Sumatera Selatan, ancaman PJK kini semakin nyata karena tidak hanya mengincar lansia, tetapi juga mulai banyak menyerang kelompok usia produktif akibat pergeseran gaya hidup modern.

Apa Saja Penyebab Penyumbatan Arteri Koroner & Faktor Risikonya?

PJK utamanya disebabkan oleh aterosklerosis (penumpukan plak). Faktor risiko utamanya meliputi:

  • Merokok: Merusak dinding pembuluh darah dan mempercepat penumpukan plak. (Catatan: Budaya merokok, termasuk rokok konvensional dan elektrik, masih sangat tinggi di kalangan pria di Palembang).
  • Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Memberikan tekanan berlebih pada dinding arteri.
  • Kolesterol Tinggi (LDL): Memicu pembentukan plak di pembuluh darah.
  • Diabetes (Kadar Gula Darah Tinggi): Merusak pembuluh darah secara perlahan.
  • Obesitas / Kegemukan: Sering kali dipicu oleh pola makan tinggi santan, lemak, dan karbohidrat.
  • Kurang Aktivitas Fisik (Sedentary Lifestyle): Kurang berolahraga.
  • Riwayat Keluarga & Usia: Risiko meningkat pada pria di atas usia 45 tahun dan wanita di atas 55 tahun.
  • Pola Makan Tidak Sehat: Konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan garam.

Apa Saja Gejala Penyakit Jantung Koroner yang Harus Diwaspadai?

Gejala Penyakit Jantung Koroner (PJK) dapat bervariasi pada setiap orang. Pada tahap awal, gejala sering kali tidak muncul atau tidak disadari sama sekelipun. Namun, seiring dengan semakin menyempitnya arteri koroner, gejala yang dirasakan bisa menjadi semakin parah.

Beberapa gejala umum penyakit jantung koroner meliputi:

  • Nyeri Dada (Angina): Rasanya seperti tertekan, tertindih benda berat, sesak, atau seperti diremas di bagian tengah atau dada sebelah kiri.
  • Sesak Napas: Merasa seperti kekurangan udara, bahkan saat melakukan aktivitas ringan seperti naik tangga atau berjalan santai di sekitar rumah.
  • Kelelahan Ekstrem: Tubuh terasa lemas tidak bertenaga karena jantung tidak memompa darah dengan optimal.

Jika arteri koroner yang tersumbat menyebabkan serangan jantung, berbagai gejala khas serangan jantung dapat muncul dan perlu segera dikenali, di antaranya:

  • Nyeri Dada: Terasa seperti ada tekanan, rasa sesak, himpitan benda berat, atau rasa diremas dan nyeri di bagian dada.
  • Nyeri Menjalar: Rasa sakit atau tidak nyaman yang menjalar ke arah bahu, lengan, punggung, leher, atau rahang.
  • Keringat Dingin: Tubuh tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin tanpa sebab yang jelas.
  • Sesak Napas: Kesulitan bernapas atau merasa seperti kekurangan udara secara mendadak.
  • Kepala Berkunang-kunang / Pusing: Sensasi melayang, pusing, atau hampir pingsan.
  • Kelelahan: Rasa lemas atau kelelahan ekstrem yang datang secara tiba-tiba.
  • Rasa Panas di Dada (Heartburn): Sensasi terbakar di dada yang sering kali mirip dengan gejala asam lambung.
  • Mual: Perasaan mual atau tidak enak badan di perut, yang terkadang disertai muntah.

Bagaimana Cara Mencegah Kondisi Ini?

Langkah-langkah pencegahan untuk mengatasi dan menghindari Penyakit Jantung Koroner (PJK) meliputi:

  • Berhenti Merokok: Menghentikan kebiasaan merokok secara signifikan dapat menurunkan risiko terkena PJK dan melindungi pembuluh darah dari kerusakan lebih lanjut.
  • Pola Makan Sehat: Menerapkan pola makan bergizi seimbang dengan membatasi konsumsi lemak jenuh, lemak trans, kolesterol, serta garam (natrium). 
  • Rutin Berolahraga: Melakukan aktivitas fisik atau olahraga intensitas sedang secara teratur, seperti berjalan kaki santai di pagi atau sore hari di fasilitas publik, untuk meningkatkan kesehatan jantung.
  • Mengontrol Kondisi Kronis: Menjaga kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol tetap stabil melalui pemeriksaan rutin di puskesmas atau klinik terdekat agar PJK dapat dicegah sejak dini.
  • Menjaga Berat Badan Ideal: Berusaha mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat untuk mengurangi beban kerja jantung serta meminimalkan risiko komplikasi penyakit metabolik.

Berapa Biaya Skrining dan Pemeriksaan Penyakit Jantung Koroner?

Biaya skrining dan diagnosis Penyakit Jantung Koroner berkisar antara Rp100.000 hingga Rp15.000.000+, tergantung jenis pemeriksaan yang dipilih:

Skrining / Tes Diagnostik Fungsi dan Deskripsi Estimasi Biaya (Sektor Swasta)* 
Tes Darah (Laboratorium) Mengecek faktor risiko jantung, seperti profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida), HbA1c (diabetes), dan penanda inflamasi. Rp100.000 – Rp500.000+ (tergantung paket laboratorium) 
Elektrokardiogram (EKG / ECG) Mengukur aktivitas listrik jantung untuk mendeteksi gangguan irama jantung (aritmia) atau kelainan struktural. Rp100.000 – Rp200.000 
Treadmill Test (Stress Test) Menilai kinerja jantung di bawah tekanan fisik, biasanya menggunakan alat treadmill medis atau sepeda statis. Rp350.000 – Rp800.000 
CT Calcium ScoreMenggunakan pemindai CT dosis rendah untuk mengukur penumpukan plak kalsium pada arteri koroner guna menilai risiko secara keseluruhan. Rp1.000.000 – Rp3.000.000+ 
Ekokardiografi (Echocardiogram) Menggunakan gelombang suara USG untuk menampilkan citra ruang jantung secara langsung dan mengevaluasi fungsi pompa jantung. Rp500.000 – Rp1.500.000 
CT Coronary Angiography (CTCA) Memanfaatkan pemindai CT dengan cairan kontras untuk menghasilkan citra 3D detail dari pembuluh darah dan mendeteksi penyumbatan tanpa prosedur invasif. Rp3.000.000 – Rp7.000.000+ 
Angiografi Koroner (Kateterisasi Jantung) Prosedur invasif di rumah sakit di mana cairan kontras disuntikkan melalui kateter untuk melihat aliran darah secara akurat dan menentukan titik penyumbatan secara presisi. Rp10.000.000 – Rp25.000.000+ (dapat ditanggung BPJS Kesehatan jika memenuhi indikasi) 

Catatan: Estimasi biaya di atas bersumber dari kisaran rata-rata layanan kesehatan swasta/mandiri di Indonesia. Harga dapat berbeda tergantung pada rumah sakit pilihan (seperti RS Siloam Sriwijaya, Charitas Hospital, Hermina, RS Mohammad Hoesin, dll.), kelas layanan, senioritas dokter spesialis jantung, serta komponen pemeriksaan lain yang disertakan. Sebaiknya konfirmasikan langsung ke rumah sakit atau klinik terkait untuk mendapatkan informasi tarif terbaru.

Dokter Mana yang Menangani Penyakit Jantung Koroner? 

Tenaga medis profesional yang menangani penyakit jantung koroner meliputi dokter spesialis jantung umum (general cardiologist), kardiolog intervensi (interventional cardiologist), dokter bedah kardiothoraks (cardiothoracic surgeon), serta spesialis pencegahan & rehabilitasi jantung (preventive & cardiac rehabilitation specialist). 

1. Dokter Spesialis Jantung Umum

Dokter spesialis jantung utama yang ditemui pasien untuk evaluasi awal, diagnosis, dan pengelolaan non-invasif. Mereka menilai risiko PJK melalui tes diagnostik (seperti CT angiografi koroner atau treadmill stress test) serta mengelola kondisi pasien menggunakan modifikasi gaya hidup dan obat jangka panjang.

2. Kardiolog Intervensi

Spesialis yang menangani penyumbatan signifikan yang memerlukan pembukaan fisik secara langsung melalui prosedur minimal invasif berbasis kateter, seperti:

  • Intervensi Koroner Perkutan (PCI) / Angioplasti: Memasukkan balon kecil melalui pergelangan tangan atau pangkal paha untuk melebarkan arteri yang menyempit.
  • Pemasangan Stent (Ring Jantung): Menempatkan tabung jaring kecil di dalam arteri agar tetap terbuka secara permanen.

3. Dokter Bedah Kardiothoraks

Dokter bedah yang melakukan tindakan bedah terbuka atau minimal invasif—terutama Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) atau operasi bypass—ketika penyumbatan sudah parah, luas, atau berada di titik kritis yang tidak dapat diatasi dengan kateter.

4. Spesialis Pencegahan & Rehabilitasi Jantung

Dokter yang berfokus pada pencegahan sekunder jangka panjang pasca-perawatan atau operasi. Mereka memandu program latihan fisik yang dipersonalisasi, pengaturan diet, dan pengelolaan faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, serta diabetes untuk mencegah perburukan penyakit.

Sumber Informasi Lainnya untuk Membantu Anda Mencari Dokter

Rumah Sakit dan Pusat Medis Mana Saja yang Menyediakan Skrining & Perawatan?

Untuk skrining dan perawatan penyakit jantung koroner di Palembang, masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan melalui rumah sakit umum pemerintah, rumah sakit swasta terkemuka, hingga fasilitas pusat diagnostik mandiri. Di sektor publik, rumah sakit rujukan utama—seperti RSUD Dr. H. Mohammad Hoesin (RSMH)—bersama dengan rumah sakit jejaring lainnya, menawarkan layanan skrining diagnostik yang komprehensif, tindakan darurat seperti angioplasti koroner, hingga bedah jantung.

Untuk layanan swasta, pasien dapat mengunjungi klinik spesialis jantung di dalam pusat rumah sakit seperti RS Siloam Sriwijaya, RS Hermina Palembang, RS RK. Charitas serta rumah sakit swasta lainnya di kota ini. Selain itu, masyarakat yang ingin melakukan deteksi dini atau penilaian jantung non-invasif dapat mengunjungi pusat diagnostik rawat jalan di Palembang yang menyediakan fasilitas pencitraan canggih seperti CT scan koroner dan penilaian skor kalsium untuk mendeteksi penyumbatan arteri sebelum gejala berkembang.

Jelajahi: Cari Informasi Rumah Sakit Lainnya

Berapa Biaya Perawatan Penyakit Jantung Koroner di Palembang?

Berikut adalah perkiraan estimasi biaya untuk berbagai tindakan dan perawatan penyakit jantung koroner di sektor swasta wilayah Palembang:

Perawatan / ProsedurDeskripsi & Tujuan KlinisEstimasi Biaya (Sektor Swasta)*
Obat Jangka PanjangMencakup antiplatelet (seperti aspirin), statin (penurun kolesterol), beta-blocker, dan ACE inhibitor untuk mencegah perburukan kondisi dan mengontrol tekanan darah.Bervariasi (tergantung jenis obat, dosis, dan durasi; sebagian besar dapat di-cover melalui BPJS Kesehatan)
Bedah Pintas Koroner (CABG / Bypass)Prosedur bedah terbuka atau minimal invasif untuk mengalirkan aliran darah melewati arteri yang tersumbat menggunakan cangkok pembuluh darah sehat dari kaki, lengan, atau dada.Rp75.000.000 – Rp150.000.000+ (dapat lebih tinggi untuk kasus kompleks atau perawatan intensif ICU)
Angioplasti & Pemasangan Ring (PCI)Prosedur non-bedah berbasis kateter (Percutaneous Coronary Intervention) untuk memperlebar pembuluh darah yang menyempit menggunakan balon dan memasang stent (ring) kecil agar tetap terbuka.Rp100.000.000 – Rp350.000.000+ (tergantung jumlah dan jenis ring/stent yang dipasang)

Catatan: Estimasi biaya di atas berlaku untuk sektor swasta di Palembang dan dapat bervariasi tergantung pada kebijakan rumah sakit, kelas perawatan, pengalaman dokter, serta kompleksitas tindakan medis. Pastikan untuk memverifikasi langsung dengan fasilitas kesehatan pilihan Anda untuk mendapatkan informasi tarif terbaru.

Perawatan penyakit jantung koroner bertujuan untuk meredakan gejala, meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah komplikasi. Berikut adalah pilihan penanganan yang umum digunakan:

Perubahan Gaya Hidup

  • Berhenti Merokok: Mengurangi atau menghentikan kebiasaan merokok dapat meningkatkan kesehatan jantung secara signifikan.
  • Diet Sehat: Mengonsumsi makanan seimbang yang kaya akan buah, sayur, biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, dan lemak sehat membantu mengelola kondisi jantung.
  • Olahraga: Aktivitas fisik teratur, seperti berjalan kaki, dapat meningkatkan kesehatan kardiovaskular dan meringankan gejala.

Obat-obatan

  • Agen Antiplatelet: Obat seperti aspirin membantu mencegah penggumpalan darah dan melancarkan aliran darah.
  • Obat Penurun Kolesterol: Golongan statin dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dan menekan risiko komplikasi.
  • Obat Tekanan Darah: Mengontrol hipertensi sangat krusial dalam pengelolaan kesehatan jantung dan penyakit jantung koroner.
  • Beta-Blocker: Obat yang berfungsi meringankan beban kerja jantung serta memperbaiki gejala.
  • Nitrat: Obat untuk merelaksasi dan melebarkan pembuluh darah guna memperlancar aliran darah ke jantung.
  • Calcium Channel Blocker: Obat yang membantu mengendurkan pembuluh darah jantung sekaligus memperlambat detak jantung.

Prosedur Medis

  • Angioplasti dan Pemasangan Ring (Stent): Prosedur invasif minimal di mana balon kecil dikembangkan di dalam arteri untuk melebarkannya, diikuti pemasangan ring agar pembuluh darah tetap terbuka.
  • Bedah Pintas Koroner (CABG): Pada kasus yang parah, dokter bedah dapat membuat jalur bypass di sekitar arteri yang tersumbat menggunakan cangkok dari bagian tubuh lain.

Apa Saja Pertimbangan Asuransi dan Pembiayaan untuk Kondisi Ini?

Asuransi Kesehatan & Rawat Inap (H&S)

  • BPJS Kesehatan (Jaminan Kesehatan Nasional): Sistem jaminan kesehatan nasional di Indonesia yang wajib bagi seluruh penduduk (PBI maupun Non-PBI) dan tidak menerapkan pengecualian untuk kondisi pra-eksisting — termasuk bagi pasien dengan riwayat jantung — selama kepesertaan tetap aktif. Pemberian layanan ini disesuaikan dengan kelas perawatan fasilitas kesehatan berjenjang. Program ini memberikan perlindungan komprehensif untuk rawat inap harian, tindakan bedah (seperti angioplasti dan CABG), serta pemasangan implan medis seperti ring jantung, berdasarkan prosedur rujukan dan ketentuan penjaminan yang berlaku.
  • Asuransi Kesehatan Tambahan / Swasta (Commercial Insurance): Bagi pasien yang ingin menjalani perawatan di kelas perawatan yang lebih tinggi atau di rumah sakit swasta di Palembang, asuransi kesehatan swasta komersial menyediakan proteksi tambahan di luar BPJS Kesehatan. Asuransi ini secara signifikan meningkatkan batas klaim tahunan dan menanggung proporsi biaya tagihan rumah sakit swasta atau kamar perawatan eksklusif dengan lebih fleksibel.
  • Asuransi Penyakit Kritis (Critical Illness – CI): Sementara asuransi kesehatan dasar membayarkan tagihan medis secara langsung ke rumah sakit, polis penyakit kritis memberikan pencairan dana tunai sekaligus (lump-sum) saat didiagnosis mengalami tahapan mayor masalah kardiovaskular (seperti serangan jantung berat atau operasi bypass koroner besar). Dana ini membantu menutupi hilangnya pendapatan atau biaya pemulihan pasca-operasi.

Cari Dokter Rekanan

Mencari dokter yang menjadi rekanan penyedia asuransi Anda? Berikut yang bisa membantu:

Tautan Eksternal: Jaringan Asuransi Kesehatan & Dokter Rekanan

BPJS Kesehatan & Subsidi Pemerintah

  • Subsidi Pemerintah: BPJS Kesehatan (Jaminan Kesehatan Nasional) adalah skema jaminan kesehatan wajib bagi seluruh penduduk Indonesia, mencakup peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran — iuran ditanggung pemerintah bagi warga tidak mampu) maupun Non-PBI (peserta mandiri atau melalui pemberi kerja). Kepesertaan tetap memerlukan pendaftaran aktif, namun skema ini tidak menerapkan pengecualian untuk kondisi pra-eksisting, sehingga pasien dengan riwayat penyakit jantung tetap bisa mengakses manfaat begitu kepesertaan aktif.
  • Cakupan Rawat Inap & Tindakan Bedah: Penyakit jantung koroner termasuk kategori penyakit katastropik yang ditanggung BPJS berdasarkan Permenkes Nomor 28 Tahun 2014 — termasuk angioplasti/pemasangan ring jantung (PCI) dan operasi bypass jantung (CABG) — sesuai indikasi medis dan melalui sistem rujukan berjenjang dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Sebagian tindakan berteknologi tinggi, seperti alat pacu jantung tanpa kabel, masih di luar cakupan BPJS dan dibebankan langsung ke pasien.
  • Kelas Rawat Inap Standar (KRIS): BPJS menerapkan KRIS yang menggantikan sistem kelas 1/2/3 lama, memberikan standar ruang rawat seragam untuk semua peserta. Peserta PPU dan Mandiri dapat menaikkan kelas rawat ke VIP/VVIP dengan membayar selisih biaya; peserta PBI tidak diperkenankan naik kelas.
  • Manajemen Penyakit Kronis Rawat Jalan:
    • Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis): Peserta dengan hipertensi — salah satu faktor risiko utama penyakit jantung koroner — bisa mengikuti Prolanis di FKTP terdaftar: pemeriksaan rutin (tekanan darah, EKG berkala), konsultasi dokter, dan senam kesehatan, tanpa biaya tambahan.

Bantuan Finansial (Program Bantuan & Dukungan Sosial)

  • Jalur PBI melalui Dinas Sosial: Warga tidak mampu yang belum menjadi peserta BPJS bisa mengajukan pendaftaran sebagai peserta PBI melalui perangkat desa/kelurahan dan Dinas Sosial, mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dulu dipakai untuk keringanan biaya langsung di rumah sakit, namun perannya kini sebagian besar digantikan pendaftaran PBI-JKN; sejumlah RSUD masih menerimanya sebagai jembatan sementara.
  • BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional): BAZNAS Kota Palembang dan BAZNAS Provinsi Sumatera Selatan menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah untuk bantuan biaya berobat langsung kepada pasien kurang mampu — termasuk yang dirujuk ke RSMH Palembang — melalui program seperti Palembang Sehat dan Palembang Peduli.
  • Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Sumatera Selatan: Berbasis di Palembang, YJI Sumsel menjalankan program promotif (edukasi), preventif (Klub Jantung Sehat), dan kuratif/rehabilitatif — termasuk memfasilitasi bantuan intervensi bedah bagi anak dari keluarga kurang mampu dengan penyakit jantung bawaan, berkoordinasi dengan YJI Pusat dan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.

FAQs

Kenapa Penyakit Jantung Koroner (PJK) disebut sebagai pembunuh diam-diam (silent killer)?

Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah kondisi ketika arteri koroner—yang bertugas menyuplai darah ke otot jantung—menyempit atau tersumbat karena penumpukan plak yang terbuat dari lemak. Hal ini membatasi jumlah darah yang bisa mengalir ke otot jantung. Jika plak tersebut memicu gumpalan darah, aliran darah ke jantung bisa berhenti total dan memicu serangan jantung. PJK sering kali tidak menunjukkan gejala apa pun sampai serangan jantung terjadi—inilah sebabnya penyakit ini dijuluki sebagai “pembunuh diam-diam”. Apakah Anda sudah rutin melakukan skrining jantung di Palembang?

Bisakah Penyakit Jantung Koroner disembuhkan secara alami hanya dengan perubahan gaya hidup?

PJK stadium awal tidak bisa sepenuhnya disembuhkan, namun perkembangannya dapat dihentikan atau distabilkan melalui perubahan gaya hidup yang ketat dan pengobatan. Langkah alami utamanya meliputi:

  • Mengadopsi pola makan rendah lemak jenuh (batasi makanan berlemak tinggi seperti santan berlebih yang lazim di menu lokal).
  • Berolahraga selama 150 menit seminggu (misalnya jalan santai di Komplek Olahraga Jakabaring).
  • Berhenti merokok.
  • Mengelola stres dengan baik.

Namun, penyumbatan struktural yang signifikan biasanya memerlukan obat penurun kolesterol (seperti statin), pengencer darah, atau prosedur medis seperti angioplasti untuk mengembalikan aliran darah yang aman.

Seberapa sering saya harus menjalani skrining jantung untuk PJK di Palembang jika tidak ada gejala?

Orang dewasa berusia 40 tahun ke atas—atau individu yang lebih muda dengan faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau riwayat keluarga sakit jantung—sebaiknya menjalani pemeriksaan kesehatan dasar setiap tahun.

Skrining PJK standar non-invasif, seperti CT Calcium Score atau Treadmill Test (Stress Test), umumnya direkomendasikan setiap 3 hingga 5 tahun sekali tergantung pada profil risiko awal dan evaluasi dokter spesialis jantung Anda (dapat dilakukan di rumah sakit rujukan seperti RSUP Dr. Mohammad Hoesin atau rumah sakit swasta di Palembang).

Bagaimana PJK didiagnosis?

PJK didiagnosis melalui berbagai pemeriksaan medis, seperti angiografi koroner (kateterisasi jantung), elektrokardiogram (EKG), tes beban jantung (stress test), ekokardiografi, CT scan jantung, serta tes darah.

Bagaimana dokter menentukan apakah saya memerlukan pemasangan ring (angioplasti) atau bedah bypass (CABG) untuk PJK saya?

Keputusan antara Intervensi Koroner Perkutan (PCI / pasang ring) dan Bedah Pintas Koroner (CABG / bypass) biasanya dibuat oleh Tim Jantung (Heart Team) yang terdiri dari dokter spesialis jantung intervensi dan dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular (BTKV), berdasarkan hasil tes diagnostik Anda:

  • Kapan Pasang Ring (PCI) lebih diutamakan: Biasanya direkomendasikan untuk penyumbatan pada satu atau dua pembuluh darah, atau struktur anatomi yang tidak terlalu parah. Ini adalah prosedur minimal invasif berbasis kateter yang dilakukan oleh Dokter Spesialis Jantung Intervensi dengan bius lokal, serta memerlukan masa rawat inap yang lebih singkat (biasanya 1 hingga 2 hari).
  • Kapan Bedah Bypass (CABG) lebih diutamakan: Biasanya direkomendasikan untuk penyumbatan kompleks di banyak pembuluh darah, penyakit arteri utama kiri (left main artery), atau pasien dengan kondisi penyerta seperti diabetes parah. Prosedur ini dilakukan oleh Dokter Bedah Toraks Kardiovaskular di bawah bius total, dengan mengalirkan kembali darah melewati arteri yang tersumbat menggunakan pembuluh darah sehat dari bagian tubuh lain, serta memerlukan masa pemulihan yang lebih lama di rumah sakit (selama 5 hingga 7 hari).

Hubungi Kami untuk Membuat Janji Temu

Jika Anda khawatir dengan kondisi jantung Anda dan ingin berkonsultasi dengan dokter spesialis, kami siap membantu menjadwalkan janji temu. Hubungi kami melalui tombol di bawah ini.

Sumber Tambahan

  1. Syarat dan Prosedur Operasi Pasang Ring Jantung Menggunakan BPJS Kesehatan | Tempo.co
  2. Tentang Kami | Yayasan Jantung Indonesia (YJI).
  3. Deteksi Dini Penyakit Jantung: Lakukan Lewat Tes Ini! | Primaya Hospital.
  4. Profil RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang | RSMH.
  5. Pentingnya Pemeriksaan Jantung Berkala | Kementerian Kesehatan RI.
  6. Hindari Penyakit Jantung Koroner dengan Mengelola Faktor Risikonya | Direktorat P2PTM, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes)

Semua konten di situs ini hanya bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional, dan tidak boleh dijadikan patokan untuk saran medis spesifik. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi 119 atau kunjungi Unit Gawat Darurat (UGD) terdekat.

365Sehat adalah anggota dari Group 365Asia.