Khawatir soal kesehatan ginjal dan ingin tahu gejala gagal ginjal serta cara cek ginjal bermasalah?
Penyakit ginjal kronis sering kali dijuluki sebagai silent killer. Di Indonesia, prevalensi penyakit ini terus meningkat, namun banyak yang tidak menyadarinya hingga mencapai stadium lanjut.
Artikel ini akan membahas berbagai gejala gagal ginjal yang perlu diwaspadai serta bagaimana cara cek ginjal bermasalah melalui prosedur medis yang tepat.
Kembali ke Saluran Utama: Perawatan Gagal Ginjal Kronis
Jadwalkan Konsultasi dan Prosedur dengan Dokter Spesialis Ginjal Sekarang!
Panduan Daftar Dokter Terbaik di Asia
Ciri-ciri dan Gejala Gagal Ginjal
Penyakit ginjal kronis sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda nyata pada tahap awal. Namun, seiring menurunnya fungsi penyaringan, tubuh akan mulai menunjukkan tanda gagal ginjal yang spesifik.
Beberapa gejala penyakit ginjal kronis yang umum meliputi:
- Urin berbusa: Menandakan adanya kebocoran protein (albumin) ke dalam air seni.
- Pembengkakan kaki dan wajah: Terutama di area sekitar mata (sembap) serta pergelangan kaki akibat retensi cairan.
- Perubahan pola buang air kecil: Bisa berupa penurunan frekuensi buang air kecil atau justru lebih sering kencing di malam hari.
- Kelelahan ekstrem: Tubuh terasa sangat lemas dan sulit berkonsentrasi.
- Masalah pencernaan: Gejala seperti mual dan muntah berkepanjangan serta nafsu makan yang menurun drastis.
- Masalah kulit dan otot: Kulit terasa sangat kering dan gatal, serta sering mengalami kram otot di malam hari.
Cara Mengetahui Ginjal Bermasalah melalui Screening
Jika Anda merasakan ciri-ciri gagal ginjal di atas, langkah terbaik adalah segera melakukan pemeriksaan medis.
Sebagai bagian dari cara deteksi dini gagal ginjal, dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan fungsi ginjal melalui dua tes utama:
- Tes Darah (eGFR): Untuk mengukur estimated Glomerular Filtration Rate atau laju filtrasi glomerulus guna melihat seberapa baik ginjal menyaring limbah.
- Tes Urin (uACR): Untuk mengukur rasio albumin-kreatinin guna mendeteksi kebocoran protein dalam urin.
Seseorang dikatakan mengalami gejala gagal ginjal kronis secara klinis jika nilai eGFR berada di bawah 60 ml/min/1.73m2 dan/atau nilai uACR di atas 30 mg/g yang menetap selama tiga bulan atau lebih.
Apa itu eGFR dan uACR?
- eGFR: Indikator utama untuk menentukan stadium penyakit ginjal. Nilainya dihitung berdasarkan kadar kreatinin serum, usia, dan jenis kelamin. Semakin tinggi nilai eGFR, semakin baik fungsi ginjal Anda.
- uACR: Ginjal yang sehat akan menahan albumin dalam darah dan membuang kreatinin ke urin. Jika angka uACR tinggi, artinya terjadi kerusakan pada unit penyaring ginjal.
Prosedur Lanjutan dalam Pemeriksaan Fungsi Ginjal
Untuk mendapatkan gambaran lebih mendalam, dokter mungkin akan menyarankan cara mengecek kesehatan ginjal melalui metode diagnostik tambahan:
- Pencitraan Medis: Seperti USG ginjal, CT scan, atau MRI untuk melihat struktur fisik ginjal.
- Biopsi Ginjal: Pengambilan sampel jaringan kecil untuk dianalisis di laboratorium.
Opsi Terapi Gagal Ginjal dan Estimasi Biayanya
Bagi pasien di Indonesia yang mencari second opinion atau perawatan lanjutan, Singapura menjadi tujuan populer karena teknologi medisnya yang mutakhir.
Ini estimasi biaya pemeriksaan ginjal di Singapura sebagai gambaran Anda:
- Paket Screening Ginjal (Renal Profile): Biasanya berkisar di bawah S$100 (sekitar Rp 1.321.930), belum termasuk biaya konsultasi dokter spesialis.
- USG Ginjal: Berkisar antara S$150 hingga S$200 (sekitar Rp 1.980.615 – Rp 2.640.820).
Konsultasikan Masalah Kesehatan Ginjal dengan Dokter Spesialis Ginjal yang Tepat
Melakukan pengecekan ginjal secara rutin sangat krusial, terutama bagi penderita diabetes dan hipertensi.
Deteksi dini memungkinkan pengelolaan penyakit yang lebih efektif sebelum mencapai tahap gagal ginjal total.
Jika Anda mempertimbangkan perawatan di luar negeri, ini dokter spesialis ginjal di Singapura yang bisa Anda pertimbangkan:

365Sehat bisa bantu hubungkan Anda dengan dokter spesialis ini, jadwalkan appointment konsultasi dan prosedur, hingga bantu akomodasi Anda selama di sana.
Tertarik untuk coba? Ingin tanya-tanya lebih lanjut? Bisa langsung hubungi kami dengan klik tombol di bawah ini!
FAQ
Gejala awal sering kali tidak terlihat (silent). Namun, tanda yang paling umum adalah perubahan pada urin (seperti urin berbusa), kelelahan yang tidak biasa, serta pembengkakan kaki dan wajah akibat penumpukan cairan.
Satu-satunya cara akurat adalah melalui pemeriksaan fungsi ginjal di laboratorium. Anda perlu melakukan tes darah untuk melihat nilai eGFR (laju penyaringan) dan tes urin untuk mengecek kadar albumin (protein).
Tidak selalu, namun mual dan muntah berkepanjangan bisa menjadi gejala penyakit ginjal kronis stadium lanjut. Hal ini terjadi karena limbah beracun (ureum) menumpuk dalam darah karena tidak bisa disaring oleh ginjal.
Kelompok yang berisiko tinggi adalah penderita diabetes, hipertensi (darah tinggi), obesitas, serta orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal. Kelompok ini disarankan melakukan deteksi dini gagal ginjal minimal setahun sekali.
Kerusakan ginjal kronis umumnya bersifat permanen, namun dengan cara mengecek kesehatan ginjal sejak dini, perkembangan penyakit bisa diperlambat secara signifikan sehingga pasien terhindar dari kewajiban cuci darah (dialisis).
Info Terkait
- Ingin konsultasi lebih lanjut? Bisa hubungi tim 365Care via WhatsApp (wa.me/6590991662)
- Temukan paket medical check-up dan perawatan medis lainnya di Singapura dan Malaysia.
Artikel Terkait
Kembali ke Saluran Utama: Perawatan Gagal Ginjal Kronis
- Program Penurunan Berat Badan
- Pencitraan Medis
- Rumah Sakit & Medical Centre di Singapura
- Panduan Berobat ke Singapura
Panduan Daftar Dokter Terbaik di Asia
NOTES: Konten medis ini telah ditinjau oleh Dr. Wong Weng Kin, seorang dokter spesialis ginjal (nefrolog) di One Future Kidney Care, Singapura (Mount Elizabeth Hospital).
Referensi:
Gliselda, V. K. (2021). Diagnose and Management Chronic Renal Disease. Jurnal Medika Hutama, 2(04 Juli), 1135-1141. Diakses dari: https://jurnalmedikahutama.com/index.php/JMH/article/view/237
Korsa, Ayana et al. (2025). Risk Factor-Based Screening for Early Detection of Chronic Kidney Disease in Primary Care Settings: A Systematic Review. Kidney Medicine, Volume 7, Issue 4, 100979. DOI: 10.1016/j.xkme.2025.100979
Vaidya SR, Aeddula NR. Chronic Kidney Disease. (2024). StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Diakses dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK535404/
van Mil, D., Kieneker, L. M., Heerspink, H. J. L., & Gansevoort, R. T. (2024). Screening for chronic kidney disease: change of perspective and novel developments. Current opinion in nephrology and hypertension, 33(6), 583–592. https://doi.org/10.1097/MNH.0000000000001016
Semua konten di situs ini hanya bersifat informatif dan tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional, dan tidak boleh dijadikan patokan untuk saran medis spesifik. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi 119 atau kunjungi Unit Gawat Darurat (UGD) terdekat.
365Sehat adalah anggota dari Group 365Asia.



